Minta Penangguhan Tahanan, Eks Manajer Koperasi Lumbung Artho Menghilang | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Minta Penangguhan Tahanan, Eks Manajer Koperasi Lumbung Artho Menghilang

Minta Penangguhan Tahanan, Eks Manajer Koperasi Lumbung Artho Menghilang Polres Malang Kota tetapkan eks manajer KSU Lumbung Artho sebagai DPO kasus penipuan.(ist)

Klikapa.com - Polisi Polres Malang Kota memasukkan mantan manajer Koperasi Serba Usaha (KSU) Lumbung Artho, Soedarsono alias Mboen, 57, dalam daftar pencarian orang (DPO). Ia menghilang setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus penipuan.

Menurut Kasatreskrim Polresta Malang Kota AKP Bayu Febrianto Prayoga, penetapan sebagai DPO warga Jalan Pahlawan TRIP Taman Ijen B-16 C RT 01 RW 10 Kelurahan Oro-Oro Dowo, Klojen itu sejak, Selasa (10/5). 

"Soedarsono alias Mboen ditetapkan sebagai DPO atas perkara Pasal 378 KUHP yaitu Penipuan. Kami telah menetapkannya sebagai DPO, mulai Selasa (10/5) lalu," terang Bayu, Kamis (12/5).

Bayu mengatakan Soedarsono sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penipuan. Yang bersangkutan bahkan sempat melakukan perlawanan hukum lewat praperadialan. Kemudian mengajukan penangguhan penahanan.

Tetapi usai itu, Mboen tak lagi memenuhi panggilan polisi yang memeriksa kasusnya. Belakangan bahkan tidak diketahui lagi rimbanya.

Bayu menyebutkan tersangka sebelumnya merupakan manajer pengurus koperasi serba usaha (KSU) Lumbung Artho yang terletak di Jalan Letjen Sutoyo Kota Malang. Penipuan dilakukan pada tahun 2018 lalu, saat ia masih memimpin koperasi tersebut.
 
"Ia mengaku sebagai pimpinan koperasi dan mengiming-imingi korbannya untuk berinvestasi di koperasi. Namun uang investasi dari para korbannya itu, masuk ke rekening pribadi tersangka. Uang tersebut kemudian digunakan tersangka untuk membeli aset atas nama tersangka," bebernya.

Bayu mengatakan ada satu korban melaporkan ke Polresta Malang Kota. Korbannya mengaku, merugi hingga Rp 1,7 miliar. 

"Sebenarnya, korbannya cukup banyak. Namun untuk saat ini baru satu korban yang membuat laporan. Kerugian korban yang kami dalami saat ini diketahui mencapai Rp 1,7 miliar," terangnya.

Penetapan tersangka sebagai DPO lanjut Bayu setelah petugas melakukan pemanggilan dan selalu mangkir. Terakhir petugas melakun pemanggilan 22 April 2022.

"Kami juga mendatangi rumah tersangka yang ada di kawasan Villa Puncak Tidar, Dau. Namun, hingga saat ini, keberadaannya masih belum kita temukan. Sehingga,


BERITA TERKAIT