Mendikbudristek: Pandemi Covid-19 Timbulkan Rasa Kesepian dan Trauma pada Anak | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Mendikbudristek: Pandemi Covid-19 Timbulkan Rasa Kesepian dan Trauma pada Anak

  • 28-09-2021
  • Editor :junaedi
  • dibaca :1245
Mendikbudristek: Pandemi Covid-19 Timbulkan Rasa Kesepian dan Trauma pada Anak Mendikbudristek Nadiem Makarim.(ist)

Klikapa.com -Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyebutkan pandemi Covid-19 menimbulkan rasa kesepian dan trauma terhadap anak-anak sekolah.

Selain itu, keadaan ini juga turut menimbulkan stres pada diri orang tua di rumah dan meningkatkan tensi dalam hubungan orang tua dengan anak.

Menurut Nadiem, rasa kesepian dan traumatik itu memiliki potensi risiko yang sama sebagaimana kekhawatiran banyak pihak akan terjadinya learning loss.

"Banyak anak-anak kita yang kesepian, banyak anak-anak kita yang secara emosional trauma dengan situasi ini," kata Nadiem dalam diskusi yang digelar secara virtual, Selasa (28//9).

"Orang tua juga stres di rumah dan menyebabkan berbagai macam isu dan tension antara orang tua dan anak-anaknya," imbuhnya.

Rasa kesepian dan traumatik pada anak menjadi salah satu persoalan psikologis yang Nadiem soroti. Ia mengaku mengkhawatirkan masalah tersebut. Sebab, kondisi psikologis itu merupakan bagian kemampuan anak-anak untuk bersikap terbuka terhadap pembelajaran.

Keadaan emosional dan psikologis, kata Nadiem, memang dua hal yang berbeda. Namun demikian, dalam diri anak-anak dua hal itu saling berkaitan.

"Jadi ini merupakan suatu hal yang mengkhawatirkan," tutur pendiri Gojek itu.

Di sisi lain, menurut Nadiem, pandemi Covid-19 juga membuka dan memperlebar ketimpangan yang sebelumnya sudah ada dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Keadaan ini semakin mengkhawatirkan, sebab sejak sebelum pandemi pun angka Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia sudah tertinggal dibanding beberapa negara lain, termasuk negara tetangga.

"Kita sudah ketinggalan di bidang numerasi literasi dan sains kalo dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita dan juga negara lain," ujar Nadiem.

Analisis Kemendikbud Ristek, Bank Dunia, dan sejumlah lembaga riset lainnya menemukan adanya kemungkinan anak-anak kehilangan 0,8-1,2 tahun masa pembelajaran. Hal ini membuat seakan-akan satu generasi kehilangan nyaris satu tahun pembelajaran di masa sekarang.

Nadiem mengaku pihaknya terus mendalami, mengkaji, serta melihat apakah dampak dari persoalan tersebut akan berlangsung permanen. Pihaknya terus


BERITA TERKAIT