Komnas PA Laporkan Belasan Siswa SMA di Kota Batu Jadi Korban Kekerasan Sesk dan Ekspolitasi | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Komnas PA Laporkan Belasan Siswa SMA di Kota Batu Jadi Korban Kekerasan Sesk dan Ekspolitasi

Komnas PA Laporkan Belasan Siswa SMA di Kota Batu Jadi Korban Kekerasan Sesk dan Ekspolitasi SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Kota Batu.(kerisdianto)

Klikapa.com – Kasus kekerasan seksual, fisik, verbal, hingga ekploitasi ekonomi kepada siswa SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) menggegerkan Kota Batu. Tidak tanggung-tanggung, Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA) turun langsung melaporkan kejadian itu kepada polisi.

Komnas PA Arist Merdeka Sirait melaporkan dugaan kekerasan seksual, fisik, verbal, hingga ekploitasi ekonomi pada 15 siswi di salah satu SMA di Kota Batu itu ke SPKT Polda Jatim, akhir pekan kemarin.  

Dia melaporkan bersama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu. Serta tiga korban yang merupakan siswi SMA itu. 

Arist menyebutkan, kasus kejahatan seksual berulang-ulang kepada puluhan anak-anak sejak kelas 1, 2 dan 3 di sekolah tersebut, atau sampai lulus masih mengalami kejahatan seksual bisa tersimpan.

"Sesuai data yang ada kami laporkan kasus kekerasan seksual dan telah diterima oleh polisi (SPKT Polda Jatim). Ada tiga kasus kekerasan seksual di tempat itu sejak tahun 2009-2020 yang kami laporkan," terang Arist, Minggu (30/5/2021).

Disebutkan, dari 15 korban berasal dari wilayah seperti Palu, Kudus, Madiun, Kutai, Poso, dan juga yang berasal dari Blitar. Kemungkinan masih banyak lagi korban lainnya jika diungkap.

"Yang dilaporkan pengelola atau yang punya sekolah. Di situ bukan sekolah saja, ada hotel, out bound, kampung kids," terang Arist. 

Bahkan diungkapnya, tempat tersebut bukan merupakan institusi pendidikan, tapi sekolah yang dibungkus dengan mempekerjakan anak.

"Itu bukan sekolah tapi dibungkus sekolah. Bahkan anak dipekerjakan di situ sambil korban kejahatan seksual tidak hanya di lokasi itu tapi sampai luar negeri. Bentuk kekerasan sampai penetrasi dan oral," terangnya.

Sementara itu, Kepala SMA SPI, Risna Amalia seperti dikutip New Malang Pos, menyanggah adanya kekerasan seksual di sekolah yang ia pimpin sejak tahun 2007 tersebut.

"Kami juga kaget dan merasa aneh dengan pemberitaan ini. Kami tidak tahu siapa yang memasukkan bahan


BERITA TERKAIT