BUMN Tangki Anggapan Ada Motif Bisnis pada Pengadaan Vaksin Gotong Royong | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

BUMN Tangki Anggapan Ada Motif Bisnis pada Pengadaan Vaksin Gotong Royong

  • 21-05-2021
  • Editor :junaedi
  • dibaca :1557
BUMN Tangki Anggapan Ada Motif  Bisnis pada Pengadaan Vaksin Gotong Royong ilustrasi.(ist)

Klikapa.com -Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjawab tundingan ada motif bisnis dari program vaksinasi gotong royong. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyebutkan banyak merek vaksi yang akan didatangkan dan tidak ada motif keuntungan.

"Ada beberapa alternatif vaksin yang lagi diajukan kawan-kawan, ini lagi proses. Jadi kalau dibilang ini langkah-langkah mencari keuntungan, pakainya cuma satu merek, enggak, kami lagi cari juga," jelasnya pada webinar Narasi Institute, Jumat (21/5/2021).

Menurut dia, vaksi Sinopharm dan Cansino yang saat ini sudah mendapatkan izin pakai, pihaknya juga tengah menjajaki kemungkinan impor vaksin dari Rusia, yakni Sputnik V.

Dia menambahkan harga vaksin dari Sinopharm yang didapat oleh RI merupakan harga termurah kedua dunia, hanya di bawah China yang memproduksi sendiri vaksin covid-19 tersebut.

Sebelumnya, Ekonom Achmad Nur Hidayat menilai penggunaan vaksin tunggal dari Sinopharm menimbulkan kesan motif bisnis di balik program vaksin gotong royong.

Menurut Achmad, harga vaksin cukup mahal. Sesuai dengan ketentuan dari Kementerian Kesehatan, harga vaksin gotong royong maksimal ditetapkan seharga Rp321.660, dengan tarif maksimal pelayanan vaksinasi sebesar Rp117.910 per dosis.

"Harga vaksin gotong-royong yang mahal dan penggunaan jenis vaksinnya tunggal yaitu vaksin asal China, Sinopharm, menimbulkan kesan vaksin gotong royong ini motifnya bisnis semata," terang Achmad.

Di kesempatan sama, eks sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengingatkan agar pengadaan vaksin covid-19 untuk program gotong royong tidak melibatkan 'perantara' atau penghubung antara pabrik farmasi dengan BUMN.

Berdasarkan pengalamannya di perusahaan pelat merah, ia mengaku banyak melihat praktik demikian. Biasanya, lanjutnya, oknum berasal dari mereka yang dekat dengan kekuasaan.

"Jangan sampai ada penghubung antara pabrik vaksin dengan BUMN, itu yang biasanya terjadi. Biasanya, yang jadi penghubung ini orang-orang yang dekat dengan kekuasaan. Itu yang harus dijaga oleh KPK dan BPK," pungkasnya.
 


BERITA TERKAIT