Topang Pertanian di Daerah Pebukitan, Sumber Brantas akan Dibangun Embung | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Topang Pertanian di Daerah Pebukitan, Sumber Brantas akan Dibangun Embung

Topang Pertanian di Daerah Pebukitan, Sumber Brantas akan Dibangun Embung Minimnya air untuk pertanian di Desa Sumber Brantas, Misyanto salah satu petani menggunkan genset untuk menyirami pertaniannya di wilayah perbukitan.

Klikapa.com -Atasi masalah kekurangan air untuk lahan pertanian di daerah pebukitan, Pemkot Batu berencana memperbanyak pembangunan embung atau tempat penangkaran air. Pembangunan ini ditopang oleh dana pusat lewat Direktorat Jenderal (Ditjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan).

Program pembangunan embung yang sudah dibangun salah satunya di Dusun Sabrang Bendo Desa Giripurno Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

Kini juga sedang  direncanakan pembangunan embung di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji. 

"Untuk pembangunan embung ini merupakan program dari pemerintah pusat. Salah satunya mendapat program ini adalah Kota Batu yang dikenal dengan pertaniannya," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Sugeng Pramono, Kamis (1/10/2020).

Pilihan pembangunan embung di Desa Sumber Brantas, karena pertanian di desa ini sangat membutuhkannya. Meski diketahui di desa berjuluk kaki langit ini merupakan titik nol Sumber Air Kali Brantas. 

Akan tetapi banyak lahan pertanian berada di perbukitan, membuat petani di wilayah itu kesulitan mengalirkan air  untuk lahan pertaniannya.

Embung, lanjut dia akab bisa memenuhi ketersediaan air untuk aktifitas pertanian. Utamanya di Sumber Brantas yang memproduksi berbagai komoditas unggulan seperti kentang hingga wortel. 

"Saat ini kami masih mencari mana lokasi yang tepat untuk dibangun embung. Karena sampai saat ini lahan yang dibutuhkan tidak ada," bebernya. 

Rencana embung di Sumber Brantas ini disabut senang para petani. Misyanto, 34, salah satu petani asal Desa Sumberbrantas Kecamatan Bumiaji misalnya akan merasa bersyukur jika embung itu segera terwujud.

Pasalnya, ia sangat meresaka  sulitnya mencari air untuk lahan pertaniannya. Tanah seluas tujuh hektare berada di tebing dengan kemiringan hampir 60 persen. Sehingga untuk mencari air sangat sulit dan harus menggunakan bantuan mesin untuk pengairannya. 

"Dari kondisi lahan yang tak memungkinkan, itu harus menggunakan genset untuk menarik air dari bawah. Kebanyakan genset menggunakan bahan bakar solar," bebernya.

Untuk meminimalisir pengeluaran, ia memanfaatkan bahan bakar alternatif untuk bertani.


BERITA TERKAIT