BKKBN: Sebaiknya Tunda Dulu Kehamilan di Masa Pandemi Corona | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

BKKBN: Sebaiknya Tunda Dulu Kehamilan di Masa Pandemi Corona

  • 20-05-2020
  • Editor :junaedi
  • dibaca :651
BKKBN: Sebaiknya Tunda Dulu Kehamilan di Masa Pandemi Corona ilustrasi.(ist)

Klikapa.com -Dampak virus corona bukan saja memukul sendi perekonomian. Pasangan suami istri (pasutri) yang ingin segera memiliki buah hati pun sepertinya harus ditahan dulu. Mengapa? 

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyebutkan kehamilan pada masa pandemi seperti ini akan langsung menambah beban perekonomia.

Wardoyo pun menghimbau masyarakat tidak hamil dulu selama wabah Covid-19 atau Virus Corona.

"Kalau bisa ketika masih masa kritis [hamil] ditunda dulu. Nanti mudah-mudahan dalam tiga bulan sudah mereda baru," katanya seperti dikutip cnnindonesia, Rabu (20/5/2020).

Ia menyatakan sosialisasi dari himbauan tersebut dilakukan selama kebijakan menetap di rumah dilakukan di berbagai daerah.

Langkah ini didorong karena BKKBN mencatat setidaknya 10 persen pasangan usia produktif tak lagi memakai kontrasepsi pada periode Maret hingga April 2020. Ini ditemukan pada tujuh jenis alat dan obat Keluarga Berencana (KB), yakni alat kontrasepsi dalam rahim, suntik, pil, kondom, susuk, tubektomi dan vasektomi.

"Sementara ini yang putus [kontrasepsi] selama dua bulan ini sekitar 2,5 juta sampai dengan 3 juta akseptor," ungkapnya.

Hasto pun memprediksi peningkatan angka kehamilan jika pasangan produktif putus memakai kontrasepsi sebesar 15 persen.

Artinya, tiap 100 pasangan putus kontrasepsi, sebanyak 15 pasangan akan hamil dengan hitungan hubungan seks 2 sampai 3 kali seminggu.

Sebelumnya, Hasto menyatakan angka pemakaian alat kontrasepsi menurun selama pandemi Corona. Ia menaksir hal ini karena banyak akseptor KB yang khawatir terpapar ketika mengakses layanan kontrasepsi.

Ia menjelaskan kenaikan angka kehamilan di tengah pandemi dikhawatirkan bisa meningkatkan beban ekonomi negara maupun individu, peningkatan angka stunting atau kekerdilan, angka kematian ibu dan janin.
 


BERITA TERKAIT