Merasa Diganggu Terus, Kuli Bangunan Ini Perkosa Anak SD | Berita Terbaru Hari ini

Close

Merasa Diganggu Terus, Kuli Bangunan Ini Perkosa Anak SD

  • 2020-02-11 penulis : Fino
  • Editor :junaedi
  • dibaca :774
Merasa Diganggu Terus, Kuli Bangunan Ini Perkosa Anak SD Tersangka asusila saat diperiksa penyidik Polres Malang.(firman)

Klikapa.com -Seorang kuli bangunan Atmari, 42 , warga Desa Kalipare, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, ditangkap polisi karena diduga melakukan penncabulan kepada  R, 12. Tersangka mengaku itu dilakukan karena jengkel karena sering diganggu korban saat ia tidur siang.

Saat diperiksa penyidik Unit PPA Polres Malang, Atmari mengaku melakukan tindakan itu dua kali. 

“Dia sering main ke rumah saya siang-siang. Dia teman anak saya,” kata Atmari kepada penyidik, Senin (10/2). 

Karena dianggap R terlalu sering datang saat siang hari, Atmari yang ingin tidur siang merasa terganggu.

Dia beralasan memberikan ‘hukuman’ kepada korban, dengan cara menyetubuhi siswi SD itu secara paksa. Korban ditarik ke dalam kamar, lalu disetubuhi, dengan janji akan diberikan uang. 

Tapi, uang tersebut tak pernah diberikan. Sejak itu, korban tak pernah lagi bermain ke rumah Atmari.

Peristiwa ini terjadi pada 2018 lalu. Saat itu, korban masih duduk di bangku kelas 3 SD. Saat lebih dewasa, korban akhirnya berani menceritakan hal ini kepada orangtua. 

Tak terima dengan perlakuan Atmari, laporan pun dilayangkan kepada Unit PPA. Atmari dipanggil ke Polres Malang, dan tak pernah lagi bisa pulang.

Atmari mengklaim melakukan perbuatan ini dua kali, pertama hanya menggerayangi tubuh korban. Baru pada perbuatan kedua, tersangka memasukkan alat kelaminnya ke dalam alat kelamin korban. 

Meski demikian, penyidik Polres Malang tidak bisa percaya begitu saja dengan keterangan pelaku.

Penyidikan lanjutan terus dilakukan untuk mengungkap fakta sebenar-benarnya soal kasus ini. Kanit PPA PA Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana mengatakan, perbuatan tersangka dijerat dengan pasal 81 jo 76D dan atau pasal 82 jo 76E UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

“Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara,” tutur Yulistiana kepada Malang Post, di ruang penyidik PPA, Senin siang (10/2).(fin/feb)
 


BERITA TERKAIT