(Sulit Judul) | Berita Terbaru Hari ini

Close

(Sulit Judul)

(Sulit Judul)

MTR. Kian banyak stasiun yang ditutup.

Jumat kemarin stasiun Prince Edward pun ditutup. Ratusan orang mendemo MTR itu. Tuntutannya: minta rekaman CCTV atas demo tanggal 31 Agustus. Mereka berasumsi polisi berlebihan dalam menangani demo hari itu.

 

Tentu permintaan ditolak. Ada aturan yang harus ditaati MTR: rekaman CCTV hanya boleh diberikan kepada yang berwajib. Pihak lain tentu boleh juga. Asal ada perintah pengadilan.

Maka, menurut hukum, seharusnya mereka menggugat lewat pengadilan.

Gagal memperoleh rekaman, mereka mengamuk. Mesin karcis jadi sasaran. Demikian juga pintu masuk.

Pemimpin tertinggi Hongkong akhirnya memang mencabut total pengajuan RUU ekstradisi.

Itulah urutan satu dari lima tuntutan pendemo. Sebenarnya itu pun hanya seperti membunuh mayat.

RUU itu sudah dibekukan di DPR. Juga sudah dinyatakan mati. Tapi pendemo minta itu tidak cukup. Harus secara resmi dicabut.

Puaskah pendemo?

Sudah saya duga: itu dianggap tidak ada artinya. Mereka minta, lima tuntutan itu sebagai satu kesatuan.

Kemarin, dan hari ini, mereka tetap bergerak. Sasarannya kembali ke bandara.

Para ahli memang menyarankan, agar pemerintah memenuhi dua tuntutan: pencabutan RUU itu dan membentuk tim independen untuk menilai tindakan polisi. 

Memang pendemo akan tetap ngotot 'lima adalah satu'. Tapi yang seperti itu tidak semua. Setidaknya separo dari mereka tidak akan demo lagi. Kalau dua hal itu sudah dipenuhi. 

DI's Way bulan lalu pun sudah menulis itu. Setidaknya itulah langkah tepat untuk memisahkan: mana pendemo radikal dan mana yang moderat.

Pemisahan seperti itu harus terus dilakukan. Sampai terlihat mana kelompok yang inti. Yang ingin merdeka itu. Yang pada dasarnya juga sudah diketahui. 

Misalnya kelompok konglomerat Jimmy Lai. Pemilik kerajaan media.

Nama korannya: 苹果日报 (Harian Apel, Apple Daily).

Koran itu tergolong baru --untuk ukuran sejarah koran. Baru sekitar 25 tahun.

 

Saat pertama terbit Apple Daily bikin kejutan. Halaman depannya meriah dan warna-warni. Aneh untuk dunia koran saat itu.

Tapi juga sangat menarik perhatian. Grafis-grafisnya luar biasa atraktif.

Saya pernah mengirim tim grafis untuk ke Hongkong. Khusus mengamati apa yang dilakukan Harian Apel. Dan apa yang bisa diadopsi. 

Sukses di Hongkong Jimmy Lai membuat koran dengan nama yang sama di Taiwan. Tidak seberapa sukses.

 

Kini, di zaman digital, Jimmy Lai juga ekspansi ke media digital.

Usaha lainnya adalah ritel pakaian: Giordano. Tapi toko-tokonya yang di berbagai kota di Tiongkok sudah dijual.

Tentu banyak kelompok seperti itu yang lain. Misalnya dari kelompok Demosisto. Yang sudah diulas juga di DI's Way (Lihat DI's Way: Gerakan Lokal).

Yang radikal itulah yang pada dasarnya punya agenda khusus: ingin Hongkong merdeka dari Tiongkok.

Katakanlah lima tuntutan itu dipenuhi. Yang aliran keras itu pasti punya alasan lain lagi. Tujuannya utamanya memang bukan itu.

Pernah, misalnya, ada masalah bahasa. Awal tahun lalu.

Tiba-tiba saja ada isu: sekolah-sekolah di Hongkong akan diwajibkan mengajarkan bahasa Mandarin (普通话). 

Isu itu menjadi besar. Gelombang penentangan pun meluas. Mereka menolak bahasa Mandarin. Mereka merasa itu bagian dari intervensi Tiongkok ke Hongkong. Itu merupakan upaya Tiongkok untuk menghapus identitas Hongkong. 

Orang Hongkong sangat bangga dengan bahasanya sendiri: bahasa Kanton. Yakni bahasa yang sama yang dipergunakan di satu provinsi besar di Tiongkok: Guangdong.

Tapi isu bahasa itu reda sendiri. Setelah pemerintah menegaskan tidak pernah ada rencana seperti itu. 

Rasanya juga tidak ada perlunya.

Kini semua orang Hongkong sudah bisa berbahasa Mandarin. Tanpa ada yang mewajibkan. 

Sudah beda dengan 30 tahun lalu. Yang mereka enggan bicara Mandarin. 

Bahkan, sebelum itu, mereka merasa terhina kalau berbahasa Mandarin. Dianggap bahasanya orang kampung. Atau bahasanya orang miskin.

Belakangan, ketika Tiongkok sudah maju, perubahan terjadi sendiri. Secara alamiah. Pembelanja dari Tiongkok membanjiri ke Hongkong. Banyak yang tidak bisa berbahasa Kanton (广东话).

Pun Tiongkok kian kaya. Bahkan kemudian mengalahkan Hongkong. Bukan hanya bahasa. Uang renminbi pun kemudian mereka terima. 

Mula-mula nilai rinminbi lebih rendah dari dolar


BERITA TERKAIT